Skip to content

Dokter Hewan, Profesi Tidak Dihargai di Negeri ini

D E N G A R
Menteri Pertanian Republik Indonesia Anton Apriantono pada satu kesempatan pernah berkata kepada Ketua PDHI Drh. Wiwik Bagja bahwa kalau dokter hewan ingin dihargai, maka tunjukkan bukti prestasi pada negeri ini. “Bagaimana bisa berprestasi kalau dokter hewan tidak diberi otoritas dan kesempatan untuk membuktikannya”, sanggah Ketua PDHI pada kesempatan itu.
Cuplikan percakapan di atas disampaikan oleh Ketua PDHI Drh. Wiwik Bagja dalam kesempatan seminar mengenai peran dokter hewan disela-sela pelantikan pengurus PDHI Jatim I dan II yang bertempat di sekretariat PDHI Jatim II, Jl. Suropati 108 Batu, Malang.

Drh Wiwik Bagja, Ketua PB PDHI saat memberikan ceramah mengenai peran
dokter hewan di Indonesia khususnya dalam kasus penyakit flu burung
Kenyataan bahwa dokter hewan secara otoritas tidak mempunyai kewenangan dalam pengambilan keputusan penting tergambar dari posisi dokter hewan secara profesi dalam tata organisasi negara di bawah Departemen Pertanian. Pos yang ditempati oleh dokter hewan secara struktural tertinggi adalah Eselon II yaitu Direktur Kesehatan Hewan. Posisi ini menurut ketua PDHI merupakan posisi teknis yang efek hasil pengambilan keputusannya tidak mempunyai gaung yang besar dibandingkan dengan misalnya Dirjen Peternakan. Dirjen Peternakan yang sekarang, posisinya diisi oleh seorang sarjana peternakan.

Avian influenza atau flu burung masih menjadi masalah besar yang memerlukan penanganan profesional terintegrasi dari berbagai pihak yang perlu terlibat untuk keberhasilan penanggulangannya.

Dari nama penyakitnya saja, seyogianya pemerintah dan masyarakat spontan berpikir tentang peran dokter hewan dalam kasus flu burung, apalagi korbannya berjuta-juta ekor unggas.
Namun kenyataannya disemua pernyataan-pernyataan pemerintah tentang AI jarang disampaikan oleh dokter hewan. Kalaupun ada, itu hanyalah bersifat info teknis.
Menghadapi flu burung, banyak dokter hewan merasa tidak puas atas tidak tepatnya posisi dan perannya dalam membantu pemerintah untuk mengatasi penyakit secara profesional.
Fakta yang ada hingga saat ini, berbagai upaya yang dilakukan untuk memberikan informasi dan pengertian kepada pimpinan negara bahwa dokter hewan berperan penting melalui suatu kesisteman yang berotoritas dan berwibawa agar dapat menyelamatkan bangsa dari bahaya AI belum berhasil.
Bilamana terjadi masalah penyakit yang merugikan manusia baik penyakit hewan maupun penyakit manusia maka diperlukan para ahlinya dimana pengakuan keahlian/kompetensinya harus berdasar hukum legal.

Para ahli penyakit yang dimaksud adalah profesi kedokteran yang terjamin kewenangannya secara hukum dan juga kewenangan profesionalnya untuk bertindak atas nama negara.
Apresiasi pemerintah terhadap keahlian kedokteran ini dapat tercermin dari adanya kestrukturan dalam tata pemerintahan. Undang-undang/ aturan hukum yang cukup kuat untuk memberdayakan profesi kedokteran dan kesisteman yang memilki jejaring intersektoral dan interdepartemental dari tingkat pusat hingga ke daerah.

Apresiasi pemerintah berlanjut dengan adanya pemberdayaan SDM berkeahlian kedokteran dan tenaga-tenaga pendukungnya secara terencana dan terprogram serta jelas kedudukan dan fungsinya untuk berperan melalui berbagai fasilitas kesehatan diseluruh wilayah tanah air. Kejelasan peran profesi kedokteran dalam kemitraan dengan berbagai pihak non kedokteran dalam rangka situasi darurat wabah dan kewaspadaan dini harus memiliki pengaturan hukum agar tidak terjadi keputusan-keputusan dan langkah-langkah yang kurang tepat yang pada akhirnya merugikan bangsa dan negara.

Dalam rangka flu burung yang terkait dengan penanganan kesehatan masyarakat dan lingkungan antara profesi medik kesehatan manusia dan kesehatan hewan oleh pemerintah (Depkes dan Deptan) menunjukkan bahwa kebijakan Deptan belum mampu bermitra secara setara dengan Depkes khususnya kesetaraan dalam memenuhi kaidah-kaidah epidemiologi serta ilmu kedokteran (baik kedokteran manusia maupun hewan). Hal ini menjadikan peran dokter hewan Indonesia di berbagai sektor tidak dapat optimal. (her)

Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by

http://www.koranpdhi.com

11 Komentar leave one →
  1. 22 Agustus 2009 7:41 am

    Satu hal menyedihkan mendengar berita ini. Tapi marilah kita inrospeksi diri. Sudahkah kita memberikan kontribusi positip yang konkrit bagi masyarakat sekitar kita ? Sudahkah kita memberikan manfaat bagi warga dilingkungan kita ? Dari hal yang kecil saja, misalnya setiap Idul Adha, apakah kita berpartisipasi memberikan ilmu yang kita punya kepada lingkungan kita ? Langkah-langkah kecil seperti ini jika kita lakukan terus-menerus dan bersama-sama pasti dampaknya akan menjadi besar. Wajar saja orang lain mengatakn hal yang sangat menyinggung harga diri profesi ini, karena mereka tidak tahu dan tidak memahami apa itu dokter hewan? Tugas kitalah untuk memberi pencerahan itu.

  2. 26 Desember 2009 6:50 am

    Assalamualaykum, hal tersebut sudah di tuangkan dalam syair lagu kebangsaan kita yaitu …….” ITULAH INDONESIA………dalam arti ya seperti tersebut diatas, sehingga perlu perjuangan secara ALL OUT untuk merubah…..”ITULAH INDONESIA…..dalam arti yg membanggakan, pahlawan kita menangis sampai hari kiamat karena ternyata bangsa kita berjuangnya hanya untuk : Jabatan, Golongan, Dan Duit duit duit bukan untuk BANGSANYA……………………….

  3. 26 Desember 2009 7:48 am

    @Bpk Khudori: Wa’alaikum Salam Warohmatullah, saya sependapat, betul yang bapak katakan. Yah…. memang begitu realitanya dan harus banyak2 di do’akan oleh orang2 yang benar2 sholeh.

  4. Agus Lelana permalink
    26 Januari 2010 6:22 pm

    TS Drh Wahid,

    Keberpihakan Bapak kepada profesi veteriner, harus diacungi jempol. Profesi veteriner ini memang belum dihargai di republik ini. Dan, siapa lagi yang harus membela, ya tentu dokter hewan itu sendiri.

    Jika kita baca UU No18.2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, boleh jadi kita melihat adanya prospek terhadap nasib dokter hewan, sebagai profesi maupun kelembagaan di pemerintahan.

    Jelas kelembagaan yang kita inginkan adalah adanya otoritas veteriner. Idealnya langsung bertanggungjawab kepada presiden, tetapi itu masih impian. Mencapai eselon satu di Departemen Pertanian saja masih harus diperjuangkan.

    Sehubungan dengan itu, tidak ada kata lain kecuali “terus berjuang”. Otoritas veteriner harus ada di pusat, provinsi, kabupaten/kota. PDHI adalah wadah perjuangan tersebut. Terus lakukan advokasi, agar terwujud perda-perda tentang kelembagaan otoritas veteriner sebagai penjamin kesehatan hewan. Lembaga ini sinergis dengan lembaga ketahanan pangan yang sidah mantap disemua pemerintahan daerah di Indonesia.

    salam
    Agus Lelana

  5. 27 Januari 2010 7:25 am

    @TS Agus Lelana: Salut dengan semangat Anda…. Mari Teman Sejawat Semua… kita berjuang demi tegaknya otoritas veteriner bagi profesi kita…..

  6. drh. nono permalink
    5 April 2010 9:39 pm

    mari berjuang..
    tapi soal kewenangan saya miris dan kecewa.. apalagi mengenai peran drh di lapangan yang masih kalah dengan mantri.. gimana ga kalah mereka bisa nangani segala kasus hewan termasuk reproduksinya nah kita di jatim dokter hewan masih sembunyi2 bahkan dilarang untuk melakukan profesi kita (IB) hehehe
    ayo berjuang untuk otoritas kita
    nono
    lereng gunung kawi blitar
    jatim

  7. Drh.Ratmawati Malaka permalink
    3 September 2010 12:07 pm

    Profesi Dokter hewan di Indonesia, khususnya di Timur Indonesia memang belum memasyarakat. Masih banyak yang belum bisa membedakannya dengan sarjana peternakan. Apa karena masih kurangnya dokter hewan yang ada? Perlu ada sosialisasi dengan kerja keras, percaya diri, dan berani untuk memberikan solusi terbaik bila memang ada masalah yang memerlukan profesi dokter hewan.
    Salam untuk seluruh teman sejawat dokter hewan seluruh Indonesia, khususnya angkatan 20 FKH-IPB Bogor.

  8. Rika (calon drh) permalink
    1 Mei 2011 2:09 pm

    berarti saya sbg calon drh harus bisa lebih berguna.ada pepatah sedikit demi sedikit, lama2 menjadi bukit.walaupun peran drh masih sedikit dikenal,tp yg penting hasilnya.bukan terkenalnya.ya sudahlah.pokoknya semua harus berusaha.moga-moga saya kelak juga seperti itu.

  9. drh aceu,kota tsikmalaya (08122285117) permalink
    28 Mei 2013 10:19 am

    Saya setuju dengan drh agus lelana,keulitant kita memperjuangan nasib dokter hewan salah satunya krnkita masih bernaung di bawah deptan. Selama kita belum berkarya sepertinya masih dipandang sebelah mata.pada kasus avian influenza,dana dikucurkan lebih banyak ke dinkes.padahall penyebab dan resikonya lebih banyak dokter hewan yang berhubungan langsung dengan unggas. Pernah saya usulkan adanya asuransi untuk petugas ,sampai sekarang entah masih diperjuangkan atau tidak. Memang saat ini kita masih harus berjuang sendiri,menggali potensi kita dan memberikan yang terbaik untuk profesi kita

  10. 2 Januari 2014 10:33 am

    miris mendengar fakta ini… mungkin karena pecinta hewan peliharaan masih sedikit di Indonesia

  11. novindra linggo permalink
    8 Maret 2014 7:31 pm

    gue lagi bingung nih, mau milih jurusan teknik atau dokter hewan? mohon sarannya ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: