Skip to content

VETERYNER NEWS

PERHIMPUNAN DOKTER HEWAN INDONESIA (PDHI)
KoranPDHI.com
J E J A R I N G
E-Mail dari Seattle, USA
Dikirim oleh:
Nina Hadi Amayanti
Saat ini bekerja di sebuah lembaga riset di Seattle, USA
h_kag0m3@yahoo.com
Sebagai dokter hewan “jebolan” Indonesia, saat saya pindah ke negeri Paman Sam ini saya menyadari akan banyak hal yang berbeda yang akan saya temui disini. Tidak selamanya kita ketinggalan, namun banyak hal detail yang sudah begitu mendarah daging bagi para penduduk lokal. Bahkan di negara bagian tempat saya tinggal ini (Seattle – red) yang notabene bukan sebesar D.C. atau East Coast States lainnya, banyak para orang awam yang begitu detail pengetahuan mereka akan dunia kehewanan. Tidaklah heran bahwa profesi dokter hewan sungguh sangat dihargai di sini. Namun mereka juga dituntut untuk mempunyai pengetahuan yang jauh lebih luas daripada orang awam, yang begitu mengenal dunia medis hewan dengan baik.
Mungkin tidaklah fair untuk membandingkan apresiasi masyarakat Amerika terhadap hewan mereka dengan yang ada di Indonesia, terutama dalam hal hewan kesayangan. Sementara masih banyak rakyat Indonesia yang masih bergelut dengan kelaparan dan musibah, begitu banyak dana yang dikucurkan untuk memberikan kenyamanan pada para hewan kesayangan tersebut dinegara ini. Tulisan ini (dan mungkin beberapa mendatang)hanyalah secuil dari pengalaman saya, yang saya tuangkan untuk sekedar berbagi “mata dan telinga”. Harapan saya, semua ini akan menggugah semangat dan kebanggaan kita sebagai dokter hewan untuk terus berusaha. Masih banyak yang harus kita kerjakan. Masih banyak yang harus kita pikirkan. Agar eksistensi kita nyata dalam membangun bangsa yang kita cintai ini.

Suatu malam di musim dingin tahun 2004, saat akan menyalakan perapian (nyulutnya pakai koran, murah meriah…) aku tertarik akan 2 artikel didalamnya, maka koran aku sisihkan untuk aku baca kemudian. Di satu artikel menyebutkan tentang seseorang yang sedang dalam kebimbangan untuk membuat keputusan mengenai nyawa anjing kesayangannya, seekor anjing campuran (yang “hanya” mirip labrador) berumur 14 tahun yang sedang sakit. Simptomnya misterius dan diagnosa berubah-ubah dari satu dokter (hewan) ke dokter yang lain.

Dokter (lagi-lagi…hewan) umum mendiagnosa mungkin ada masalah dengan tiroid, namun tidak pasti dan menyarankan untuk menemui vet neurologist (aku tersenyum…hmmmm) yang lalu mencurigai tumor otak. Namun untuk pastinya sang spesialis menyarankan untuk melakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging) lagi-lagi fasilitas khusus untuk hewan di Vienna. “An MRI for a
dog?”, itu reaksiku yaahhh… karena biayanya $ 1,400.

Hanya itu cara untuk memastikan kecurigaan sang neurologis. Dan jika ditemukan adanya kanker maka jumlah itu akan bertambah untuk terapi radiasi (bandrolnya $ 1,400 – 4,000, tergantung berapa tahun remisi diharapkan atau berapa lama kantong pemilik mampu menahan) atau hanya dengan memberi terapi simtomatis dengan steroid yang kemungkinan besar akan memperparah kankernya.
Hasil scan otak negatif. Sang pemilik lega. Namun dibalik itu tetap tidak ada diagnosa pasti. Si labrador gadungan pun akhirnya tidak bisa berjalan dan demam tinggi. Beberapa tes dan treatmen lain telah dilakukan tetapi tetap tidak ada tanda-tanda kanker ataupun penyakit lain. Antiinflamasi non steroid yang diberikan dalam bentuk pil menyebabkan masalah lambung yang parah.
Salah seorang dokter di UGD RSH menyarankan untuk memeriksa limpa dengan ultrasound. Limpa baik-baik saja, namun dari ultrasound kemudian diketahui adanya kebocoran usus yang menyebabkan infeksi di rongga abdomen, sesuatu yang lebih gawat.

Disini, lagi-lagi pemilik dilanda dilema akankah dia bertahan untuk mencoba meminta para dokter untuk mengoperasi (untuk menutup lubang dan dan membersihkan infeksi) dan dilanjutkan dengan 2 minggu terapi yang akan memakan biaya sekitar $ 3,200 ataukah menuruti saran seorang dokter yang mengatakan “I’m afraid we have to put him down..” Jika dia bertahan dia akan tetap memiliki teman kesayangannya.

Dibekali harapan tersebut dan juga karena sang anjing yang dalam kesakitannya masih sangat menunjukkan semangat hidup dan ketabahan, maka dia memilih untuk melakukan operasi…another $$$ to spend…

Namun sang teman mati di meja operasi, bahkan before a single incision. Dia lemah karena infeksi yang berat dan jantungnya tidak dapat menahan anastesia, kata dokter. Dan kembang ungkapan duka cita pun dia terima dari RSH beberapa hari kemudian. Sang teman akan tetap dikenang.

5 Komentar leave one →
  1. titin92 permalink
    25 November 2008 10:43 am

    salut….
    kasih sayang mengalahkan $$$ serta betapa berharganya sebuah hubungan jiwa dan yang paling membanggakan menjadi seorang dokter hewan yang mampu memberikan nilai yang terbaik untuk pasiennya adalah sebuah kepuasan tersendiri

  2. 25 November 2008 5:20 pm

    sejutu…………

  3. Iwan Berri Prima permalink
    28 Januari 2009 1:34 pm

    Masukan pak, mohon Judul diatas langsung di edit.. agar masyarakat tidak keliru.
    PDHI kepanjangannya bukan Persatuan dokter hewan Indonesia tetapi :

    PERHIMPUNAN DOKTER HEWAN INDONESIA

    Salam,
    Mahasiswa FKH IPB

  4. 28 Januari 2009 8:06 pm

    terima kasih koreksinya… maaf atas kesalahan pengetikan. koreksi anda telah diperbaiki.

  5. 2 Januari 2012 5:00 am

    Kunjungan pagi di awal tahun baru
    salam blogger

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: