Skip to content

Wabah dan Virus Flu A H1N1 2009, Suatu Pengertian Publik

29 Juli 2009

Kata flu seakan dari dulu sudah akrab didengar oleh manusia. Banyak penyebab penyakit flu termasuk virus. Sejarah mencatat bahwa telah terjadi sejumlah pandemi (wabah global) yang disebabkan oleh virus famili Orthomyxoviridae ini dengan ciri khas sangat senang melekat di membran selaput lendir khususnya hewan mamalia yang sejauh ini virus tersebut masih digolongkan ke dalam beberapa tipe A, B, dan C. Virus golongan ini ditandai dengan HxNx (contohnya H5N1 dan H1N1), berekombinasi lagi menjadi berbagai macam subtipe seperti contoh tesebut. H5N1 yang spesifik penyebab flu unggas berulang kali mengalami mutasi (regenerasi berciri baru) dengan berbagai virus flu unggas bahkan hewan lainnya termasuk manusia hingga sekarang virus ini bersifaat zoonosis (penularan penyakit hewan ke manusia) atau jika diukur dalam level wabah, penyakit ini masih berada pada level 3 sampai 4. H1N1 yang spesifik terdapat pada golongan babi dan H1N1 yg spesifik pada manusia saat ini diduga telah berekombinasi satu sama lainnya sehingga menghasilkan virus subtipe H1N1 mudah menular dari manusia ke manusia dan diduga juga sebaliknya, penularan juga bisa dari manusia ke hewan sehingga keadaan ini disebut dengan anthropozoonosa. Artinya keadaan penularan timbal balik tersebut karena utamanya dipengaruhi oleh sosiologi dan budaya manusia yang berinteraksi dengan alam dan makhluk hidup lainya. Seperti kejadian di Kanada dimana seseorang yang teinfeksi H1N1 menularkan virus tersebut dan membuat babi di peternakan yang dia kunjungi menjadi sakit. Sejak lama babi dianggap berperan dalam penularan influenza antarspesies, karena hewan ini memiliki reseptor, baik terhadap virus influenza unggas maupun manusia. Konsekuensinya, babi dianggap sebagai induk semang perantara atau sebagai tabung pencampur (mixing vessel), di mana material genetik virus dapat dipertukarkan.

Sejarah pandemik luar biasa mencatat beberapa kejadian. Salah satunya ketika Virus H1N1 pernah membunuh manusia sebanyak 35 juta jiwa pada tahun 1918 saat itu wabah paling parah ada di Amerika Utara, Hungaria, dan China. Pada tahun 1930 tercatat juga lagi-lagi di Amerika Utara. Di inggris, virus ini pernah tercatat bersirkulasi di hampir semua kawasan Britania Raya, walau kasus pada manusia positif tidak terlaporkan dengan baik. Kini, tahun 2000-sekarang kembali H5N1 membuat sensasi dengan mewabah sangat cepat antar unggas dan unggas ke manusia walupun ada dugaan penularan antar manusia yang masih sangat terbatas. Tidak hanya itu saja, kali ini di tahun 2009 bulan April kembali virus subtipe H1N1 mengusik dan mencoba memprovokasi manusia dengan sepak terjangnya menginfeksi hampir di semua benua terdiri dari seratus ribu kasus pertanggal 6 Juli 2009 dengan kematian hampir lima ratus orang di seluruh dunia. Artinya 0,5% kematian terjadi. Awal bulan Juli 2009, WHO kembali memberikan wabah virus ini dengan influenza A/H1N1/09. Namun kenapa tetap dijadikan suatu kepanikan luar biasa dibandingkan kejadian Avian Influenza H5N1 yang telah berlangsung parah sejak 2000 dengan kematian manusia rata-rata 75-80%.

Pengalaman sejarah pandemik yang sangat dahsyat, kehidupan sosial ekonomi masyarakat serta integrasi manusia dan hewan yang sudah tak berbatas secara tegas, tingkah laku manusia, keragaman beberapa varian virus flu yang sedang beredar luas di belahan dunia, dan partikel virus-virus yang sangat rentan untuk saling tukar menukar informasi satu sama lainnya sehingga menyebabkan mutasi sifat-sifat virus tersebut menjadi varian dan jenis baru menyebabkan kekhawatiran yang luar biasa di dunia.

Tukar menukar informasi genetika antar virus flu ini lazim disebut reassortment di mana segmen-segmen gen di dalam partikel virus saling bertukaran di dalam sel inang yg terinfeksi olehnya seperti manusia, babi, unggas, kuda, dan lainnya dan selanjutya menghasilkan partikel virus yang baru, keluar dari sel inang dan tubuh inangnya dan pada akhirnya menyebar serta menulari inang lainnya. Segmen-segmen tersebut membawa ciri dan sifat virus seperti lebih virulent (istilah tingkat keganasan virus), adaptable (mudah beradaptasi), dan atau malah lebih peka, rentan, dan bahkan tahan terhadap bahan kimia atau obat-obatan anti virus. Banyak hal yang menyebabkan mereka bermutasi diantaranya karena berbagai macam varian virus influenza yang tersebar pada hewan termasuk manusia, kepadatan populasi manusia dan hewan serta interaksi keduanya yang seakan tiada berbatas, perlakuan bahan-bahan kimia, dugaan perubahan iklim, serta perlakuan penggunaan bahan-bahan atau obat-obatan anti viral. H1N1 sekarang yang beredar diduga di dalamnya mengandung segmen gen dari beberapa virus yang terlibat dan pernah beredar dahsyat di dunia. Sederetan “perkawinan” subtipe virus yang awalnya dari H3N2 manusia dengan H1N1 babi sampai sedemikian rupa hingga beberapa generasi menghasilkan varian baru sampai akhirnya terbentuklah H1N1 dan H1N2 yang keduanya cocok dan beradaptasi selama ini dengan jaringan manusia, babi, dan unggas dan menyebabkan beberapa penyakit dengan berbagai tingkatan gejala. Kemudian kedua jenis virus tersebut kembali berinteraksi dengan virus influenza unggas lainnya yang belum diketahui sampai sekarang dari mana asal (isolat) virus avian influenza itu sehingga akibat interaksi virus H1N1 dan H1N1 dengan varian, strain, atau subtipe virus avian influenza yang masih misteri asalnya, menghasilkan varian baru yaitu H1N1 (babi, unggas, dan manusia) yang sekarang sedang bersirkulasi dan bertransmisi antar manusia dan sedikit kasus penularan manusia terhadap hewan ke seluruh penjuru dunia serta memaksa WHO menetapkan level epidemiologi menjadi pandemi (level 6 dari enam tingkatan sifat transmisi penyakit).

Kemungkinan beberapa cara mutasi virus flu tersebut selain tukar menukar informasi seperti yg telah disebutkan di atas, begitu banyak jalan mutasi dan perubahan karena interaksi satu sama lain dan keberagaman varian virus flu serta virus-virus hewan lainnya. Antara lain adalah dengan cara melakukan pertukaran atau penggabungan sifat khas masing-masing virus induk sehingga memiliki ciri khas yang tidak ditemukan pada virus induknya (rekombinasi), virus-virus tersebut saling membantu memperbaiki bagian-bagian genetik sehingga virus yg dihasilkan lebih dapat bertahan terhadap lingkungan yang tidak sesuai baginya (reaktivasi genetik). Jika suatu virus dalam keadaan cacad atau tidak sempurna, maka virus lain di dekatnya akan melengkapi bagian yang cacad tersebut (komplementasi: pelengkap). Hal-hal itulah yang menyebabkan virus flu mudah mengalami mutasi dan sifat epidemiologinya yang masif (menyebar luas) sehingga varian atau subtipe virus flu lain yang tidak ganas akan menjadi ganas seperti H1N1 karena interaksi antar mereka seperti yang telah disebutkan di atas. Sebenarnya hal ini juga dapat terjadi untuk jenis-jenis virus lain diluar virus influenza. Memang diakui bahwa dinamika virus sangat cepat terjadi. India dan Afrika sudah melaporkan beberapa kejadian flu kuda dan anjing. Namun dinamika virus tersebut belum menyerupai virus influenza A.

Kejadian penyakit pada hewan (khususnya babi) adalah demam, batuk, ngorok, bersin, lendir dari hidung, sulit bernafas. Terkadang terjadi abortus. Kasus dapat tertular satu kandang namun kematian sangat rendah. Penularan terjadi saat hewan batuk, lendir dari saluran nafasnya, dan juga aerosol hirupan partikel-partikel yg keluar dari saluran pernafasan saat bersin.

Infeksi pada manusia sebelumnya sangat jarang ditulari begitu saja tanpa ada kontak dengan hewan rentan yang sakit seperti babi. Yang beresiko adalah para petugas kesehatan hewan dan pengelola yang bertanggung jawab setiap hari pada pengawasan kandang di peternakan. Namun sekarang hampir 100.000 kasus menurut data WHO pada awal bulan Juli 2009, dengan kematian berkisar 415 di seluruh dunia. 131 negara kini melaporkan adanya infeksi ini. Menandakan bahwa kasus bersifat masif dan penularan di duga sudah terjadi dari manusia ke manusia sehingga memaksa WHO menaikkan kasus ini ke level 6 (manusia ke manusia secara global). Gejala klinik hampir mirip dengan flu musiman seperti demam, lemah / lesu, selera nafsu makan hilang, serta batuk. Beberapa kasus melaporkan pasien dalam keadaan pusing, nyeri tenggorokan, muntah, dan sebagainya.

Secara umum usaha pengendalian memberhentikan penyebaran A/H1N1/09 utamanya terdiri dari pengontrolan pergerakan atau mobilitas babi dan bio-sekuriti. Kesehatan individu dan lingkungan serta penerapan sanitasi akan menginaktifkan virus bahkan juga bisa menghentikan penyebarannya di lingkungan. Dengan menggunakan deterjen atau sabun, virus ini mudah dimusnahkan. Pada praktiknya di peternakana babi, vaksinasi juga diterapkan kebanyakan di negara-negara berkembang dengan vaksin yang mengandung 2 immunogen (bahan virus yang dijadikan kandungan vaksin sehingga bisa menimbulkan respon immun yang baik untuk melawan virus serupa yang datang dari luar tubuh inang / individu) H1N1 dan H3N2. Namun mengingat begitu banyak varian virus di lapangan yang beredar, sering sekali membuat usaha vaksinasi tidak maksimal meskipun kita menyadari bahwa vaksin tersebut mampu menghasilkan antibodi yang protektif terhadap virus. Namun kian waktu virus ini semakin mudah menular ke manusia secara pandemi, cara utama penularan secara aerosol, aspirasi, atau menghirup material-material yang keluar dari pernafasan orang yang sakit seperti bersin, batuk, dan juga liur nampaknya seperti tidak ada batas di mana dan kapan terjadinya, dengan kata lain kapan dan dimana saja hal itu bisa terjadi. Respon cepat dan kerja sama pasien dalam melaporkan status kesehatannya saat menunjukkan gejala terutama kurang dari 3 hari maka hal itu dapat membantu dengan pemberian obat anti viral seperti Tamiflu (oseltamivir). Namun satu bulan terakhir muncul kabar resmi yang mengejutkan bahwa Denmark, Jepang, dan Hongkong melaporkan sudah terjadinya resistensi virus di tubuh pasien terhadap oseltamivir. Sehingga jalan satu-satunya saat ini untuk mengurangi dampak adalah menjaga sanitasi, higenis, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta respon cepat untuk melaporkan kejadian jika terjadi gejala.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, sejumlah dasar ilmiah yang digunakan untuk menilai potensi pandemi dari wabah ini. Pertama, virus adalah strain influenza baru, di mana populasi manusia belum tervaksinasi atau belum memiliki kekebalan alamiah. Kedua, virus menginfeksi manusia melalui penularan manusia ke manusia. Ketiga, adanya virulensi (keganasan) yang ditunjukkan dengan kejadian penyakit yang parah dan kematian manusia di Meksiko. Keempat, virus dideteksi di sejumlah wilayah sepanjang Amerika Utara, dan kemungkinan kasus lain di Eropa, Timur Tengah, Amerika Selatan, dan Pasifik Selatan.

Pemerintah Indonesia harus menyiapkan dana memadai dan sumber daya manusia andal untuk mengenali secara dini terhadap setiap kemungkinan kejadian influenza luar biasa, baik pada hewan maupun pada manusia. Pengalaman wabah flu burung H5N1 lebih dari lima tahun seharusnya bisa menjadi proses pembelajaran yang membuat para ahli Indonesia mampu lebih siap dibandingkan sebelumnya.

Ancaman pandemi bukan hanya bisa datang dari luar, tetapi juga dari dalam negeri. Mengingat faktor-faktor seperti virus H5N1 sudah endemik di 31 provinsi, penyebaran virus ada di berbagai spesies dan konsentrasi peternakan babi di sejumlah daerah di Indonesia.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: