Skip to content

SEPUTAR PANDEMI FLU BURUNG (Avian influenza)

15 Agustus 2008

APAKAH KITA SIAP?

Berkali-kali kita ditimpa berbagai bencana, sejak tsunami, longsor, gempa, banjir bandang hingga berbagai kecelakaan pesawat. Hal ini membuat kita merenungi apa sebetulnya yang sedang terjadi.

Jika kita meyakini bahwa seburuk apa pun kejadiannya, pada hakikatnya adalah demi kebaikan kita sendiri, maka sampailah pada kesimpulan bahwa kemungkinan akan muncul bencana yang lebih besar lagi. Bahwa semua rentetan bencana besar sekarang ini, bisa jadi untuk melatih kita agar –ketika datang yang lebih besar lagi– kita sudah siap lahir dan batin.

Bencana besar apa yang akan menimpa kita?

Belum ada yang mengabarkannya. Namun, salah satu hal terburuk yang mungkin terjadi adalah pandemi flu burung. Di seluruh dunia sampai tahun 2006 saja sudah mencapai jumlah 247 diantaranya meninggal dunia (tertinggi di Indonesia).

Jika pandemi terjadi, seluruh kawasan akan lumpuh. Bisa saja pada setiap sektor kegiatan ada yang terjangkit dan harus dikarantina. Akan berkurang tenaga yang mengurus kelancaran listrik, air, makanan, bahkan rumah sakit. Semakin hari akan berkurang orang yang menjalankan roda kegiatan sehari-hari. Setiap yang sehat akan dibutuhkan tenaga dan keahliannya. Hingga sampai pada posisi di mana siapa pun yang sehat diharap memiliki kemampuan dasar untuk berbuat sesuatu bagi kelancaran aktivitas lingkungannya yang mulai lumpuh.

Merupakan buah dari kegalauan bahwa masyarakat kita tidak dilatih dan tidak terlatih untuk menghadapi situasi emergency. Sebagian besar dari kita masing-masing tidak tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. Teman dari Eropa terheran: kalian hidup di kepulauan tapi ga bisa berenang? Juga, jarang yang tahu bahwa kalau terjadi kebakaran, cara terbaik untuk menyelamatkan diri adalah dengan merangkak. Hal-hal mendasar ini jelas bisa mengurangi jumlah korban dan memudahkan penyelamatan.

ANALISIS

Kerugian Bisa Capai Rp 48 Triliun Akibat Pandemi Flu Burung

Flu burung bukan hanya menyebabkan korban manusia saja. Kasus flu burung pada kondisi pandemi juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi jauh lebih besar. Simulasi ekonomi (dengan basis data 2006), menunjukkan apabila terjadi pandemi, kerugian langsung jangka pendek akan mencapai antara Rp. 14-48 trilyun.

Ketua Pelaksana Harian Komisi Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (KOMNAS FBPI) Bayu Krisnamurthi mengatakan, “Flu burung telah menimbulkan korban manusia, di Indonesia terdapat seratusan lebih korban flu burung meninggal, 10 korban diantaranya meninggal dunia di tahun 2008.”

Kasus flu burung telah menimbulkan kerugian ekonomi sejak 2004 dalam bentuk ayam yang dimusnahkan, berkurangnya permintaan ayam dan telur, berkurangnya konsumsi ayam dan telur di restoran, tambahan biaya yang harus dikeluarkan peternak dan pemerintah dalam penanganan flu burung, serta dampak terhadap sektor lain terutama pariwisata.

Nilai kerugian sejak tahun 2004 hingga 2007 diperkirakan telah mencapai Rp 4,1 triliun. Nilai tesebut belum termasuk hilangnya kesempatan kerja dan kerugian akibat berkurangnya konsumsi protein oleh masyarakat.

Flu burung dapat menyebabkan korban lebih besar setelah memasuki tahap prapandemi (stage 4 & 5) dan pandemi (stage 6). Tidak ada yang tahu kapan dan dimana dimulai serta tidak juga bisa diperkirakan dengan tepat korban melihat pengalaman masa lalu.

Menurut Bayu, “Simulasi untuk menghitung dampak pandemi influenza menunjukkan bahwa jika terjadi pandemi saat ini diperkirakan dapat terjadi situasi di mana 66 juta orang akan mengalami sakit dan terjadi 150.000 orang meninggal dunia.

MUNGKINKAH TERJADI PANDEMI?

Menurut I Nyoman Kumara Rai, ancaman pandemi flu burung di Indonesia pada tahun ini merupakan kelanjutan yang dialami pada 2005. Jadi ancaman itu tidak pernah hilang. Indonesia menjadi ancaman nomor satu karena jumlah penderita dan yang meninggal akibat flu burung sangat tinggi dibandingkan negara lain.

Pandemi Keempat Flu Burung

Kendati demikian WHO bukan hanya mengkhawatirkan Indonesia saja, negara lain juga dikhawatirkan karena di beberapa negara lain di benua Asia, Eropa, dan Afrika juga terjadi kasus flu burung. Karena itu WHO mengingatkan kepada negara-negara anggotanya agar menyadari bahaya pandemi keempat flu burung. Pandemi adalah wabah yang melampaui batas negara dan meliputi wilayah sampai satu benua atau lebih. Pandemi flu burung biasanya bersiklus 40 tahun.

• Pandemi pertama (1918): korban meninggal 40-50 juta orang

• Pandemi kedua (1957): korban meninggal 4-5 juta orang

• Pandemi ketiga (1967): korban meninggal sekitar 1 juta orang

• Pandemi keempat: …………?

Selain korban jiwa, pandemi juga akan menghancurkan perekonomian dan kondisi sosial keamanan suatu negara. “Jika terjadi pandemi, negara akan kacau karena orang pasti akan berebut obat flu burung,” kata Nyoman Kumara.

BAGAIMANA BILA TERJADI PANDEMI…….?

LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN

PERIODE KEWASPADAAN

Pada periode ini penularan antar manusia sudah terjadi namun kasusnya masih jarang terjadi dan dalam kontak yang sangat dekat.

Pesan pendorong pada perilaku yang mudah dilakukan dan dipromosikan saat wabah didaerah tertentu terjadi untuk menghindari kepanikan yang meluas.

PESAN UTAMA BAGI KELUARGA :

Siapkan suplai air bersih dan makanan untuk satu minggu

Dasar Pemikiran : Adalah jumlah suplai yang diperlukan oleh sebuah keluarga untuk bias bertahan hingga datangnya informasi lebih lanjut dari pemerintah.

Siapkan radio beserta baterai cadangan, tv atau media elektronik lainnya

Dasar Pemikiran : Untuk mendengarkan pengumuman resmi dari pemerintah yang disiarkan melalui media, sedangkan batu baterai cadangan untuk berjaga jika listrik mati.

Siapkan peralatan dan suplai bahan baker untuk memasak.

Dasar Pemikiran : Sebagai tenaga cadangan untuk memasak makanan selama tinggal di rumah.

PERIODE WABAH

Yaitu masa dimana penularan antar manusia sudah mulai sering terjadi di daerah yang lebih luas. Pada periode ini akan ada garis komunikasi yang tegas dan berasal dari satu sumber yang dipercaya (credible and authoritative).

Pemerintah pusat dan daerah akan saling bekerjasama dengan pembagian tugas dan metode yang jelas. Perlu kerjasama lintas sektoral antar lembaga pemerintah dan swasta.

PESAN NASIONAL :

Larangan untuk bepergian ke daerah lain.

Tidak boleh memasuki daerah yang terinfeksi

Memastikan public tidak panic dan tetap tenang dengan melakukan:

 Pembatasan mobilisasi bagi semua warga masyarakat.

 Kemudahan mengakses Tamiflu bagi petugas kesehatan dan atau yang berwenang.

 Kemudian mendapatkan Alat Perlindungan Diri bagi petugas yang berwenang.

 Distribusi Antibiotika untuk infeksi sekunder bagi petugas yang berwenang.

 Menyiapkan rumah sakit khusus.

PESAN PADA DAERAH YANG TERKENA WABAH:

Jangan meninggalkan rumah.

Segera laporkan ke petugas jika ada yang sakit.

Pembatasan mobilisasi penduduk

Penutupan tempat public seperti pasar, sekolah, kantor, mall dll.

Pemusnahan unggas secara massal oleh petugas.

Pembagian masker secara massal.

Melakukan karantina pada area yang terinfeksi.

Tulisan ini di Himpun dari berbagai sumber

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: