Skip to content

SISTEM KEKEBALAN PADA TRAKTUS RESPIRATORIUS

PROSES RESPIRASI
Makhluk hidup dalam beberapa keadaan dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu tanpa makanan dan berhari-hari tanpa air tetapi hanya bisa bertahan hidup beberapa menit tanpa udara. Salah satu komponen udara adalah O2 yang sangat diperlukan untuk proses metabolisme sel tubuh. Sel tubuh membutuhkan suplai O2 secara konstan, contohnya sel otak yang dapat mati selama kira-kira 4-6 menit tanpa O2. Oksigen melalui udara yang diinhalasi oleh paru-paru yang kemudian masuk ke sistem sirkulasi darah lalu didistribusikan ke seluruh tubuh (Anonimus1 2006). Traktus respirasi antara lain nostril, rongga hidung, faring, laring, trakhea, bronkhus, bronkhiolus, paru-paru, diafragma dan otot-otot dada yang membantu pernafasan.
Pernafasan adalah proses pertukaran zat, metabolisme dari gas zat asam atau O2 yang diambil dari dari udara oleh paru-paru yang setelah mengalami proses kimiawi di dalam jaringan tubuh, dibebaskan lagi ke alam oleh bebas dalam bentuk gas CO2. Pemasukan dan pengeluaran udara ke dan dari dalam paru-paru secara harafiah bukanlah proses pernafasan melainkan proses ventilasi. Pertukaran di dalam paru-paru antara gas-gas dalam udara, O2 dan CO2 dengan yang dalam kapiler darah disebut sebagai pernafasan luar (external respiration) dan pertukaran di dalam jaringan atau pernafasan dalam secara difusi (internal respiration) (Subronto 1985).
Dua fungsi utama dari sistem respirasi adalah untuk menyediakan O2 untuk darah dan mengambil CO2 dari dalam darah. Membran tipis dari dinding alveolar dan kapiler memudahkan terjadinya pergerakan O2 ke dalam darah dan pergerakan CO2 ke dalam udara alveolar (Frandson 1996). Fungsi-fungsi yang bersifat sekunder meliputi membantu dalam regurgitasi keasaman cairan ekstraseluler dalam tubuh, membantu mengendalikan suhu, eliminasi air dan fonasi (pembentukan suara). Sebuah molekul O2 di dalam rongga alveolus untuk dapat diangkut hemoglobin (Hb) di dalam eritrosit, molekul O2 tersebut harus melalui barrier yang terdiri atas dinding alveolus, dinding kapiler darah, lapisan plasma dalam kapiler, kemudian dinding eritrosit. Resistensi yang dialami molekul tersebut tidak besar, karena perjalanan seluruhnya hanya berjarak 2 μm.
“Pusat pernafasan” adalah beberapa kelompok neuron yang terletak di sebelah bilateral medula oblongata dan pons. Daerah ini dibagi menjadi tiga kelompok neuron utama yaitu kelompok pernafasan dorsal (menyebabkan inspirasi), kelompok pernafasan ventral (menyebabkan inspirasi atau ekspirasi bergantung kelompok neuron mana yang dirangsang) dan pusat pneumotaksik (membantu pola dan kecepatan bernafas) (Guyton dan Hall 1996).
Apabila perangkat-perangkat pertahanan alat pernafasan tidak dapat berfungsi normal ada kemungkinan paru-paru akan mengalami gangguan organik hingga tubuh tidak dapat memperoleh dan memanfaatkan O2 secukupnya. Gangguan organik paru-paru akan tercermin dalam berbagai manifestasi klinis (Subronto 1985). Daya pertahanan paru-paru secara patologis-anatomis tercermin dalam usaha untuk melokalisasi proses infeksi. Dalam pemeriksaan di rumah pemotongan hewan terhadap hewan-hewan sering sekali dijumpai mikroabses di dalam paru-paru tanpa adanya gangguan hewan yang bersangkutan selama selama hidupnya.

SISTEM KEKEBALAN PADA TRAKTUS RESPIRATORIUS
Keadaan istimewa di dalam paru-paru adalah 200 m2 permukaan epitel yang terpapar di lingkungan sehingga membutuhkan mekanisme pertahanan yang efektif untuk melindungi individu dari substansi asing yang masuk termasuk mikroorganisme yang patogen (Garn 2006). Udara di alam bebas tidak suci hama serta mengandung partikel-partikel debu baik dari tumbuhan maupun dari hewan, toksin, spora, pollen, bakteri, virus, fungi, logam berat, asbestos, insektisida, gas beracun (NO2, SO2, NH3, H2S), dan sebagainya. Oleh karena udara tersebut harus dihisap oleh paru-paru untuk dapat tetap “bersih” harus tersedia perangkat-perangkat pertahanan tubuh di dalam sistem respirasi. Paru-paru mamalia dilengkapi dengan sistem kekebalan yang beragam baik barrier mekanis/ fisik maupun kimiawi (sistem kekebalan nonspesifik) misalnya refleks batuk, refleks bersin, mucocilliary escalator, mukus, surfaktan, lisozim, defensins. Selain itu juga ada makrofag, sekresi IgA, BALT (Bronchus Associated Lymphatic Tissue) yang merupakan sistem kekebalan spesifik (Garn 2006).

Sistem Kekebalan Nonspesifik
Berdasarkan tempatnya yaitu traktus pernafasan atas, traktus pernafasan bawah dan alveoli. Traktus pernafasan atas terdiri dari rambut-rambut di hidung yang menginduksi turbulens, sekresi mukus yang menjebak partikel, arus mukus di dasar lidah dimana material yang tertelan, sekresi nasal yang mengandung substansi antimikrobial dan traktus respirasi atas banyak mengandung flora normal. Traktus pernafasan bawah terdiri dari membran mukus bronkhi dan bronchiolus yang menjebak partikel, aksi menggigit dari silia karena aliran mucocilliary untuk mem-flow up ke faring dimana material tertelan, 90% partikel dapat ditangkap dan hanya partikel yang berdiameter kurang dari 10 μm yang dapat mencapai alveoli dan di alveoli terdapat alveolar makrofag yang dengan cepat memfagosit partikel.
Partikel-partikel yang terbawa dalam udara dan besar ukurannya dikeluarkan melalui rongga hidung dan hanya bagian berukuran kecil saja yang bisa sampai ke paru-paru. Pada alat respirasi bagian atas, 100% partikel berdiameter labih besar dari 10 μm dan 80% lebih besar dari 5 μm, dikeluarkan berdasarkan proses gravitasi pada permukaan mukosa. Partikel-partikel ditempelkan/ diletakkan antara ⅔ bagian belakang dari rongga hidung dan nasopharyngealis serta dari laryng ke ujung bronchiolus, pada jalur aliran udara dengan cara ditutupi/ dibungkus oleh mukus, rambut-rambut epitel dan dikeluarkan melalui proses mekanisme transport mucocilliary. Segala sesuatu yang berpengaruh pula pada proses pembersihan partikel dari alat respirasi bagian atas.

Seluruh saluran nafas dari hidung sampai bronkhiolus terminalis dipertahankan agar tetap lembab oleh selapis mukus yang melapisi seluruh permukaan. Mukus ini disekresikan sebagian oleh sel goblet dalam epitel saluran nafas dan sebagian lagi oleh kelenjar submukosa yang kecil. Selain itu juga mukus berfungsi untuk menangkap partikel-partikel kecil dari udara inspirasi dan menahannya agar tidak terus ke alveoli. Mukus bersifat “antiseptik” melaui kandungan lisozim dan IgA nya.
Seluruh permukaan saluran nafas baik dalam hidung maupun dalam saluran nafas bagian bawah sampai sejauh bronkhiolus terminalis dilapisi oleh epitel bersilia dengan kira-kira 200 silia tiap sel epitel. Silia ini terus menerus “memukul” dengan kecepatan 10-20 kali/ detik dan arah kekuatan “memukulnya” selalu mengarah ke faring. Dengan demikian silia dalam paru mengarah ke atas dan dalam hidung mengarah ke arah bawah.
“Pukulan” yang terus menerus ini menyebabkan mukus mengalir dengan lambat pada kecepatan kira-kira 1 cm/ menit ke arah faring. Partikel-partikel dengan diameter 3.0-10.0 mili mikron yang dijeratnya tertelan atau dibatukkan keluar dalam waktu singkat, +24 jam, partikel-partikel tersebut dapat dikeluarkan dari tubuh. (Guyton dan Hall 1996). Partikel yang tertelan kemudian dicerna didalam saluran usus.
Secara refleks paru-paru dengan bantuan otot-otot diafragma, perut dan dada mampu menghasilkan batuk baik untuk mengeluarkan benda asing yang merangsang atau bahan-bahan lain yang merupakan produk dari radang paru-paru dan salurannya. Guna mengurangi beban paru-paru yang meradang dan untuk menghindari masuknya lebih banyak agen noksius, selain batuk paru-paru juga mampu mengecilkan lumen bronkhi dan bronkhiolinya (Subronto 1985).
Refleks batuk merupakan suatu mekanisme yang penting dimana sekresi yang berlebihan dan eksudat radang dari paru-paru atau aliran udara utama dapat dikeluarkan dari jalan udara serta dibuang melalui proses expectoration (proses batuk). Pada hewan yang paru-parunya relatif normal, batuk merupakan proses efektif untuk mengeluarkan material. Pada kasus infeksi kuman, batuk bisa mengakibatkan pergerakan balik dari material infeksius ke ujung bronchiolus dan sebenarnya merupakan proses penyebaran infeksi ke arah distal dari paru-paru.
Bronkhus dan trakhea sangat sensitif terhadap sentuhan halus sekalipun sehingga dapat menimbulkan refleks batuk. Laryng dan karina (tempat dimana trakhea bercabang menjadi bronkhus) adalah yang paling sensitif dan bronkhiolus terminalis dan bahkan alveoli bersifat sensitif terhadap rangsangan bahan kimia yang korosif seperti gas sulfur oksida dan klorin. Impuls aferen yang berasal dari saluran nafas terutama berjalan melalui nervus vagus ke medula.
Pertama, kira-kira 2.5 liter udara diinspirasi. Kedua, epiglotis menutup dan pita suara menutup erat-erat untuk menjerat udara dalam paru. Ketiga, otot-otot perut berkontraksi dengan kuat mendorong diafragma sedangkan otot-otot ekspirasi lainnya seperti interkostalis internus juga berkontraksi dengan kuat. Akibatnya tekanan dalam paru meningkat sampai 100 mmHg atau lebih. Keempat, pita suara dengan epiglotis sekonyong-konyong terbuka lebar, sehingga udara bertekanan tinggi dalam paru meledak dan kadang-kadang udara ini dikeluarkan dengan kecepatan 75-100 mil/ jam. Selanjutnya dan penting adalah penekanan kuat pada paru yang menyebabkan bronkhus dan trakhea menjadi kolaps sehingga bagian yang tidak berkartilago ini berinvaginasi ke dalam, akibatnya udara yang meledak tersebut benar-benar mengalir melalui celah-celah bronkhus dan trakhea. Udara yang mengalir dengan cepat tersebut biasanya membawa pula benda asing apapun yang terdapat dalam bronkhus atau trakhea (Guyton dan Hall 1996).
Refleks bersin sangat mirip dengan refleks batuk kecuali bahwa refleks ini berlangsung pada saluran hidung, bukan pada saluran nafas bagian bawah. Rangsangan yang menimbulkan refleks bersin adalah iritasi dalam saluran hdung, impuls aferen berjalan dalam nervus kelima menuju medula dimana refleks ini dicetuskan. Terjadi serangkaian reaksi yang mirip dengan refleks batuk tetapi uvula ditekan sehingga sejumlah besar udara dengan cepat melalui hidung dengan demikian membantu membersihkan saluran hidung dari benda asing (Guyton dan Hall 1996).
Sistem pertahanan dengan mekanisme imunologis berada di daerah yang barrier fisik terhadap invasi relatif lemah. Unsur utama dalam mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang yaitu antibodi, limfosit dan sel plasma yang terdapat dalam aliran darah. Bila suatu mikroorganisme atau bahan asing lainnya memasuki jaringan, pertahanan tubuh dimobilisasi dan diarahkan ke tempat terjadinya serangan. Proses pemusatan pertahanan pada suatu tempat tertentu menyebabkan terjadinya perbarahan (Subronto 1985).
Yang disebut tanda utama perbarahan adalah hiperemi, panas, bengkak dan sakit. Hal ini timbul sebagai akibat dari pertambahan aliran darah yang mencolok (hiperemi dan panas) dan karena ekstravasasi plasma (bengkak dan sakit). Penambahan aliran darah berfungsi membawa lebih banyak antibodi ke tempat peradangan dan penambahan permeabilitas pembuluh darah memungkinkan antibodi tersebut merembes ke ruangan jaringan dalam konsentrasi yang tinggi.

Sistem Kekebalan Spesifik
Ada dua macam kekebalan tubuh yaitu seluler (limfositik) dan humoral (berkaitan dengan antibodi di dalam darah), bersifat dependen atas limfosit yang diproses secara khusus untuk pengembangan atau pembentukan kekebalan. Limfosit dapat membentuk beratus-ratus jenis antibodi sensitif yang berbeda-beda, masing-masing jenis sifatnya spesifik untuk suatu antigen khusus dan tiap jenisnya dapat berganda mencapai jumlah yang sangat besar apabila digertak oleh antigen spesifik yang jumlahnya cukup (Frandson 1996).
Kekebalan seluler terbentuk apabila suatu antigen menyentuh dan merangsang T limfosit (timus limfosit). T limfosit adalah dari limfosit yang berasal dari sel-sel batang sumsum tulang dan diproses didalam timus sebelum bergerak ke jaringan limfosit tubuh hewan. Pemrosesan yang terjadi di dalam timus mulai sesaat sebelum kelahiran dan berlangsung selama beberapa bulan sesudah kelahiran.
Penjeratan dan pengolahan bahan asing yang dilakukan oleh tubuh antar lain dengan sistem mieloid (mampu melakukan fagositik dengan cepat tetapi tidak mampu bertahan lama) dan sistem fagositik mononuklir yang bekerja lebih lambat tetapi dapat melakukan fagositik berulang-ulang dan mengolah antigen untuk tanggap kebal. Sistem fagositik mononuklir terdiri dari sel yang disebut makrofag. Makrofag tersebar luas di seluruh tubuh. Makrofag muda terdapat di aliran darah disebut monosit (bagian dari leukosit). Makrofag dewasa dapat ditemukan dalam jaringan ikat yang disebut histiosit atau ditemukan di perbatasan sinusoid hati yang disebut sel kuppfer. Makrofag yang ada di otak disebut mikroglia dan yang terdapat di paru-paru disebut makrofag alveol (Tizard 1982).
Penyerangan material asing bisa melalui jalur yang berbeda tergantung dari perbedaan fisik dan kimiawi untuk itu komponen tertentu dari sistem pertahanan pernafasan terlokalisasi dalam jumlah tertentu dalam beberapa bagian paru-paru dan diantara jalan udara distal dan parenkim paru-paru makrofag adalah struktur seluler yang terpenting dalam sistem itu (Garn 2006).
Partikel berukuran 1-2 μm mengendap di paru-paru melalui aktivitas gravitasi pada ruang alveolar dan partikel berukuran dibawah 0.2 μm masuk melalui difusi udara. Makrofag alveolar memainkan peranan yang penting dalam pembersihan partikel-partikel yang masuk dalam paru-paru. Dibawah kondisi normal, bakteri yang dapat masuk melalui alveolar dibersihkan dengan cepat dan efektif dalam beberapa jam. Proses fagositosis dimulai dari kemotaksis yaitu pergerakan oleh sel menuju partikel kemudian perlekatan yaitu sel melekat pada partikel yang diopsonisasi. Setelah itu penelanan yaitu sel menelan partikel dengan menelannya dalam sitoplasma dan yang terakhir adalah pencernaan yaitu partikel dicerna oleh enzim lisozim di dalam fagolisosom (Tizard 1982).
Gambaran anatomis dan fisiologis dari sistem respirasi sapi memungkinkan adanya predisposisi terhadap berkembangnya penyakit paru-paru dibandingkan dengan hewan lainnya. Sapi secara fisiologis mempunyai kapasitas pertukaran gas yang kecil dan aktivitas tekanan ventilasi basal lebih besar. Kapasitas pertukaran gas yang kecil menyebabkan sapi mendapatkan tingkat oksigen alveolar dan bronchial rendah selama berada pada dataran tinggi dan selama periode aktivitas fisik/ metabolik. Pada saat itu, tekanan oksigen rendah atau hipoksia mungkin memperlambat aktivitas mucocillary dan makrofag alveolar dan menurunkan kecepatan proses pembersihan paru-paru. Aktivitas ventilasi basal secara komparatif lebih besar daripada mamalia yang lain yang mengakibatkan udara yang masuk menjadi lebih progresif terkontaminasi oleh agen infeksius, alergenik dan lain-lain.
Walaupun makrofag bisa muncul dalam lokalisasi tertentu di dalam paru-paru, alveolar makrofag (AM) adalah populasi makrofag pulmonum spesifik terbaik. Lokalisasi spesial ada diluar dari barrier epitel yang membutuhkan adaptasi spesifik terhadap lingkungan. AM berbeda dari fenotip dan fungsi tertentu tidak hanya dari makrofag dari organ lain tapi juga makrofag pulmonum interstitial yaitu kapasitasnya lebih tinggi dalam memfagosit benda asing dan produksi O2 dan NO2 ditingkatkan (Garn 2006).
Organ limfoid terdiri dari dua yaitu organ limfoid primer (mengatur produksi dan diferensiasi limfosit, terdiri dari timus dan bursa Fabricius) dan organ limfoid sekunder (memproduksi makrofag dan sel dendrit yang menangkap serta memproses antigen dan limfosit T dan B yang memperantarai reaksi kebal, terdiri dari limpa dan simpul limfe). Di paru-paru juga terdapat jaringan yang mirip limfoid yaitu BALT. BALT mengandung agregat limfoid yang cenderung ke bronkhi. Kandungan makrofag yang bermigrasi ke BALT diproses untuk produksi sekretori IgA (Hewan-Lowe 1997).
Secara imunologis, sel-sel limfoid di dalam lamina propria dari mukosa saluran pernafasan mampu menghasilkan imunoglobulin A (Ig A). IgA yang dibebaskan ke permukaan mukosa bersama-sama dengan IgE dan IgG dapat digunakan dalam pertahanan humoral dengan tugas-tugas khusus seperti netralisasi virus, menghalangi penyerapan antigen makro molekuler dan menghambat pembentukan koloni kuman-kuman. Di dalam lendir juga terlarut antibodi humoral yang tidak bertugas secara khusus seperti interferon, lisozim dan laktoferin.

Kemampuan untuk membersihkan secara fisik partikel-partikel yang berukuran lebih kecil (0.5-3.0 milimikron) oleh alveoli tidak sekuat bila dibanding dengan saluran pernafasan sebelumnya (proksimalnya). Kadang-kadang kotoran melekat pada dinding alveoli selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Pembersihan partikel, organik maupun anorganik lebih banyak tergantung pada kemampuan sel-sel makrofag alveoler yang dapat “memakan” sebagian besar partikel-partikel yang halus. Kesterilan jaringan selanjutnya juga lebih banyak tergantung pada sel-sel makrofag tersebut yang selain mampu “memakan” partikel juga mampu menghasilkan interferon. Pengaktifan makrofag tergantung pada adanya imunoglobulin atau pada limfokin yang dihasilkan oleh limfosit T.
Selain tonsil, saluran pernafasan mempunyai sejumlah besar jaringan limfoid dalam bentuk simpul pada dinding bronkhi maupun limfosit yang tersebar merata pada paru dan dinding saluran udara. Imunoglobulin yang dibuat pada jaringan ini adalah IgA sekretori, khususnya pada bagian atas saluran pernafasan. Dalam bronchiolus dan alveol, meskipun demikian sekresi mengandung jumlah yang relatif besar dari IgA yang konsentrasinya diantara tingkat yang ada dan dalam trakhea dan serum. IgE juga dibuat dibuat dalam jumlah besar pada jaringan limfoid saluran pernafsan bagian atas. Seperti pada permukaan yang lain, IgA pada saluran pernafasan diperkirakan melindungi dengan mencegah perlekatan partikel antigen termasuk mikroorganisme, sedang IgG hanya penting sekali jika terjadi peradangan akut dan perembesan protein serum. Keadaan ini timbul misalnya sesudah reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperantarai IgE yang dibuat setempat dan hal itu mendorong untuk menyarankan bahwa kombinasi pembuatan IgA dan IgE pada permukaan selaput lendir tidak seluruhnya terjadi karena kebetulan. Mungkin kedua imunoglobulin ini bekerja bersama-sama, sehingga IgA menghasilkan kekebalan permukaan yang berguna untuk mencegah perlekatan dan penyusunan antigen. Jika meskipun terdapat IgA antigen dengan mudah bisa memasuki jaringan maka reaksi hipersensitivats yang berperantara IgE berikutnya berguna untuk meningkatkan permeabilitas vaskuler dan menyebabkan tersedianya sejumlah besar IgG yang kuat dalam tetesan cairan yang dihasilkan (Tizard 1982).

Paru-paru sapi juga mempunyai tingkat pembagian ruangan yang lebih besar dari pada hewan lain. Hal ini memungkinkan terjadinya hipoksia perifer pada jalannya udara sehingga jalannya udara menjadi terhambat. Hal ini juga mengakibatkan penurunan aktivitas fagositik dan retensi multiplikasi agen-agen infeksius. Disamping itu, karena makrofag alveolar jumlahnya rendah pada paru-paru sapi, maka mekanisme pembersihan paru-paru tidak seefektif hewan lainnya. Demikian pula, adanya suatu tingkat yang rendah atypical bioactivity dari lisozim pada mukus respirasi sapi sehingga memungkinkan sapi lebih mudah menderita infeksi alat pernafasan dibandingkan spesies hewan lainnya.

Proses perkembangan penyakit pneumonia bervariasi tergantung pada agen kausa, sifat virulensi agen, port de entry (tempat masuk) dari agen tersebut ke dalam paru-paru. Bakteri lebih banyak dikenal dengan cara pemindahan melalui respirasi dan menyebabkan suatu bronchiolitis primer yang menyebar dan melibatkan parenkim paru-paru disekitarnya. Reaksi jaringan paru-paru mungkin dalam bentuk proses fibrinus akut seperti pasteurelosis dan contagious bovine pleuropneumonia, lesio nekrosa seperti dalam infeksi Spherophorus necrophorus atau lesio granulomatous pada Mycobacterium atau infeksi jamur.
Penyebaran lesio melalui paru-paru terjadi dengan perluasan selain itu juga dengan pasase material infeksius sepanjang bronchiolus dan limfatik. Penyebaran tersebut diatas dipermudah oleh gerakan-gerakan normal dari epitel-epitel bronchiolus dan oleh batuk. Infeksi hemotogenus oleh bakteri mengakibatkan sejumlah luka sepsis bervariasi yang mungkin bisa membesar membentuk abses paru-paru. Pneumonia terjadi ketika abses ini pecah ke dalam aliran udara dan menyebar sebagai suatu bronchopneumonia yang bersifat sekunder.
Infeksi viral terjadi terutama melalui inhalasi dan menyebabkan suatu bronchiolitis primer tanpa disertai reaksi peradangan akut seperti yang terjadi pada umumnya infeksi oleh bakteria. Penyebaran ke alveoli menyebabkan pembesaran dan proliferasi pada sel epitel alveolar yang akhirnya berkembang menjadi udema alveolar. Bakteri memproduksi toksin sehingga terjadi nekrosa pada jaringan dan pengumpulan eksudat radang di bronchus yang dimanifestasikan dalam bentuk suara berisik pada saat auskultasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimus1. 2006. Inhalation. www. Safetyline_wa_gov_au-institute-level2-course16-lecture129. [28 Mei 2006].

Anonimus2. 2006. Alveolar Macrofag. www_technion_ac_il-~mdcourse-274203-slides -Respiratory%20System-29-Alveolar%20Macrophage_jpg.htm [28 Mei 2006]

Garn H, Siese A, Stumpf S, Wensing A, Renz H dan Gemsa D. 2006. Phenotypical and Functional Characterization of Alveolar Macrophage Subpopulations in the Lungs of NO2 Exposed Rats. http://respiratory-research.com/content/7/1/4. Phillipps University of Marburg. Marburg, Jerman.[25 Mei 2006].

Hewan-Lowe K. 1997. Pulmonary Infectious in the Immune Competent Host, Pulmonary Defense Mechanisms. Http : http://www.zappa_ultrakohl_com-medstud-Pneudocs-Images-Img0003_jpg.htm. [28 Mei 2006].

Frandson RD. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak, Edisi ke 4. Terjemahan dari Anatomy and Physiology of Farm Animals, Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh B Srigandono dan Koen Praseno. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tizard IR. 1982. Pengantar Imunologi Veteriner. Terjemahan dari An Introduction to Veterinary Immunology. Diterjemahkan oleh Soehardjo Hardjosworo. Airlangga University Press. Surabaya.

Guyton AC dan Hall JE. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi, ke 9. Terjemahan dari Textbook of Medical Physiology. Diterjemahkan oleh Irawati Setiwan et al. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

2 Komentar leave one →
  1. hery setyaan permalink
    29 Maret 2009 4:31 pm

    assalamualaikum wr. wb.
    terima kasih sebelumnya…
    saya hery mahasiswa kedokteran hewan 2006 UGM.
    saya ingin menenyakan apakah ada artikel atau jurnal yang membahas tentang pemeriksaan sistem limfatika pada sapi?
    pemeriksaan yang sifatnya umum dan bisa juga untuk identifikasi suatu penyakit…

    semoga mendapat perhatian

  2. 31 Maret 2009 8:17 pm

    @hery setyaan
    Wa’alaikum salam…
    Waduh mas…harus buka buku dan banyak membaca lagi nih saya…
    Iya deh… ntar kalo ada bahannya akan saya postingkan, tapi gak janji lho…???

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: